Air Jenis Apa yang Digunakan untuk Bersuci?

Dalam bab taharah, air merupakan unsur yang paling utama untuk sarana bersuci, baik bersuci dari hadas maupun najis. Dengannya seorang muslim dapat beribadah secara sah karena telah bersih dari berbagai macam hadas dan najis.

Air sendiri memiliki berbagai macam jenis dan variasi. Syaikh Abi Suja’ dalam kitabnya yang berjudul Matan al-Ghayyah at-Taqrib mengklasifikasikan air menjadi 4 macam, yaitu :

  1. Air Muthlak

Air Mutlak adalah air yang suci zatnya serta dapat digunakan untuk bersuci. Menurut Abi Suja’ ada 7 macam air yang masuk dalam kategori air mutlak. Beliau mengatakan:

المياه التي يجوز التطهير بها سبع مياه: ماء السماء، وماء البحر، وماء النهر، وماء البئر، وماء العين, وماء الثلج، وماء البرد

“Air yang dapat digunakan untuk bersuci ada tujuh macam, yaitui air hujan, air laut, air sungai, air sumur, air sumber, air salju, dan air es.“

2.Air Musyammas

Air Musyammas adalah air yang dipanaskan dibawah terik matahari dengan mengunakan wadah logam seperti besi dan baja kecuali emas dan perak.

Jadi gambarannya adalah ketika air langsung erpapar oleh sinar matahari. Sedangkan bila air terasa panas dikarenakan pipa air yang terkena sinar matahari lalu air menjadi hangat atau panas, tidak masalah.

Air ini suci zatnya dan dapat digunakan untuk bersuci  namun makruh mengunakannya pada badan seperti untuk wudlu ataupun mandi, dan tidak dimakruhkan pada pakaian seperti untuk mencuci baju.

3. Air Musta’mal dan Mutaghayyar

Air pada klasifikasi ini dihukumi suci secara dzatnya namun tidak bisa digunakan untuk bersuci.

  • Air Musta’mal    : Air yang sudah digunakan untuk menghilangkan hadas atau najis, tatkala tidak berubah sifatnya dan tidak bertambah ukurannya setelah terpisah dari tempat yang dibasuh.

Contoh : Air bekas mandi atau wudlu

  • Air Mutaghayyar : Air yang telah berubah salah satu sifatnya (warna, bau, atau rasa) dikarenakan telah tercampur oleh sesuatu yang suci dengan perubahan yang mencegah kemutlakan nama air tersebut.

Contoh :  Air sumur yang telah tercampur kopi, maka kemutlakan nama air (sumur) telah berubah dikarenakan tercampur oleh sesuatu lain yang suci (kopi) sehingga namanya berubah dari “air sumur menjadi air kopi”.

4. Air Mutanajjis

Air Mutanajjis bukanlah air yang dihukumi najis secara zatnya sebagaimana air kencing atau air liur anjing. Air Mutanajjis adalah air yang suci pada awalnya namun telah berubah hukumnya menjadi najis karena tercampur dengan sesuatu yang najis seperti darah, kotoran cicak dan lain sebagainya.

Adapun keadaan air tersebut bisa dihukumi mutanajis adalah :

  • Ketika air tersebut telah mencapai 2 qullah (kurang lebih 270 liter) kemudian terkena najis maka air itu akan dihukumi mutanajjis tatkala telah berubah salah satu dari sifatnya baik bau, warna ataupun rasa.
  • Namun jika air itu kurang dari 2 qullah, maka akan tetap dihukumi mutanajjis ketika terkena sesuatu yang najis meskipun salah satu dari sifatnya tidak berubah. 

Kuy Bagikan!