Cadar Dalam Konteks Kehidupan Bermasyarakat

Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan bentuk ciri khas dari perkembangan Era Milenial saat ini. Setiap tingkah dan perilaku seseorang, kini mengacu kepada kebebasan individu yang mana orang lain tidak berhak mengkritik apalagi menyalahkannya.

Padahal, tidak sedikit dari perilaku mereka yang menyimpang adat dan norma yang berlaku dimasyarakat. Perilaku tersebut adalah salah satu dari bentuk problematika yang berkembang bersamaan dengan kemajuan arus globalisasi.  

Seperti yang kita ketahui, Globalisasi telah mencapai tahap yang sangat mengerikan. Meskipun kita dapat mengakses banyak informasi dari berbagai belahan dunia dengan lebih mudah. Namun, sangat sulit untuk menentukan otensitas informasi yang kita peroleh.

Masyarkat awam umumnya digiring oleh opini publik yang kebenarannya bersujud kepada siapa yang berkuasa. Sehingga dapat disimpulkan bahwasanya saat ini media adalah wujud dari kebenaran itu sendiri.

Oleh karenanya, untuk menghadapi problematika Era Post-Modern yang identik dengan Ghazwul Fikr atau perang pemikiran.

Kita perlu banyak belajar dari petuah Dr. Adian Hussaini, “Siapapun yang tak memiliki iman dan ilmu yang kuat maka ia akan tergerus oleh zaman dan terbutakan oleh pengetahuan yang menyesatkan”.

Belakangan ini, kita dihebohkan dengan kasus cadar di Indonesia. Tentu saja hal ini tak luput dari berbagai kontroversi. Ada yang berkomentar bahwasanya cadar hukumnya wajib karena merupakan sebuah syariat, adapula yang mengharamkannya karena menyalahi adat dan bid’ah.

Disinilah media menggiring opini masyarakat dengan mengatakan bahwasannya cadar adalah budaya arab yang tidak relevan dengan adab berpakaian orang indonesia dan identik dengan teroris.

Alhasil, pandangan masyarakat terhadap kaum cadar semakin memburuk, anggapan teroris serta bentuk penindasan juga kerap terjadi. Jika dibiarkan berkepanjangan, hal ini dapat memicu perpecahan umat yang berimbas buruk kedepannya.

 Kemudian jika mengacu kepada statement tersebut bukankah celana jeans, pakain jas, dasi, dll merupakan budaya berpakaian orang barat yang identik dengan kekafirannya.

Lantas dimanakah letak budaya berpakaian orang indonesia yang sesuai dengan kearifan lokal itu sendiri?.

Tentu, kita perlu bijak dalam bersikap. Kita harus menyadari bahwasanya setiap orang memiliki kadar keilmuan, pola pikir, pendidikan serta latar kehidupan masing-masing.

Kita harus mengetahui, pada hakikatnya kita diciptakan tuhan memang dalam keadaan yang berbeda-beda dan alasannya, tak lain adalah agar kita saling mengenal antara satu sama lain bukan malah saling memaksakan pendapat dan kehendak masing-masing apalagi saling menindas.

Sebagaimana Firman Allah SWT :

“Wahai orang-orang beriman sungguh kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sungguh Allah maha mengetahui lagi maha mengenal.”  (QS. Al-Hujurat : 13)

Jika kita menelaah historis umat islam terdahulu, perbedaan pendapat diantara seorang ulama’ itu adalah hal yang biasa dan wajar. Hal memang memanglah kodrat manusia yang memiliki latar belakang dan pola pikirnya masing-masing, kemudian, apakah para ulama’ terdahulu saling menghujat?

Tidak, mereka tetap saling menghormati pendapat satu sama lain tanpa merendahkannya. Jadi alangkah baiknya jika kita segera mengakhiri masalah ini demi terjaga ukhuwah kita tanpa banyak membesar-besar masalah ikhtilaf antar golongan yang sejatinya adalah sebuah rahmat.

Sesuai hadist Rasulullah SAW,

“Perbedaan (Pendapat) diantara umatku adalah sebuah Rahmat”

Dari hadis diatas kita belajar bahwasanya perbedaan pendapat adalah sebuah kewajaran yang sudah terjadi sejak dahulu bahkan sejak zaman Rasulullah. Sebagai umat beliau tentu kita tau sikap apa yang harus akan kita ambil selanjutnya.

Wallahu A’lam Bi-Shawab..

Kuy Bagikan!