makkah-fikihku

Haji Mabrur Masuk Surga?

Ibadah Haji merupakan ziarah tahunan ke kota suci Mekkah dan kewajiban bagi umat Islam yang harus dilakukan sekali seumur hidup oleh semua umat muslim dewasa yang secara fisik dan finansial mampu melakukan perjalanan dan dapat mendukung keluarga mereka selama ketidakhadiran mereka.

Hadis yang paling popular ketika musim ibadah haji tiba adalah riwayat al Bukhari, Rasulullah Saw bersabda:

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

Dari umrah ke umrah berikutnya adalah kaffarah (penebus dosa) antara keduanya. Dan tidak ada ganjaran untuk haji mabrur kecuali surga.

Hadis di atas sering dipahami sementara orang bahwa setiap muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji (dengan baik dan benar) akan mendapat jaminan masuk surga. Jika demikian adanya, betapa murahnya harga tiket masuk ke dalam surga. Bukankah terdapat ayat dalam Al Qur’an bahwa setiap orang tidak akan masuk ke dalam surga sebelum diberi cobaan dan ujian yang berat sebagaimana kaum terdahulu? Ayat yang dimaksud adalah sebagai berikut.

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepada kamu (cobaan) sebagaimana halnya (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan macam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat (QS. al-Baqarah [2]: 214).

Berbicara tentang haji mabrur, menurut Quriash Shihab, adalah perlu memperhatikan beberapa hal. Pertama, istilah haji mabrur tidak dikenal dalam al-Qur’an, tetapi diperkenalkan Nabi Saw. melalui beberapa hadisnya. Kedua, dari segi bahasa kata mabrur terambil dari kata barra, yang berarti surga, benar, diterima, pemberian, keluasan dalam kebijakan. Sedangkan dari segi pengertiannya, menurut ajaran agama, ditemukan beberapa pendapat ulama. Al-Syaukani dalam Nail al-Authar mengutip pendapat Ibnu Khalawaih: haji mabrur adalah haji yang maqbul (diterima oleh Allah). Ulama ini berpendapat bahwa ia adalah haji yang (pelaksanaannya) tidak dinodai dosa. Pendapat ini dipilih dan dikuatkan al-Nawawi.

Masih ada lagi pendapat yang lain. Menurut al-Qurthubi, pendapat-pendapat yang dikemukakan para pakar tentang haji mabrur maknanya berdekatan. Kesimpulannya, haji mabrur adalah “haji yang sempurna hukum-hukumnya sehingga terlaksana secara sempurna sebagaimana yang dituntut”. 

Apakah yang disebut di atas telah cukup untuk meraih surga? Kendati surga adalah hak prerogratif Allah, bukan semata-mata karena amal manusia, namun itu pun rasanya masih harga yang murah untuk surga.  

Lalu, mabrur seperti apa yang dapat mengantarkan kita ke surga?

Jika kita, baik Pak/Bu Haji atau yang belum melaksanakan haji, sudah mengetehaui makna mabrur secara bahasa dan istilah, maka langkah selanjutnya menerapkan ke dalam kehidupan sehari-hari. “Kenakanlah pakaian ihram itu selamanya”, begitu kata Quraish Shihab. Maksudnya adalah menerapkan ke dalam tingkah laku sehari-hari pelatihan selama berhaji untuk melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, tidak bertengkar, tidak mengucapkan kata-kata kotor dan cabul, terlatih jiwanya untuk selalu bersih dari dengki, hasud, dan pamrih. Begitupun dengan kebiasaan shalat pada waktunya, bangun di tengah malam untuk tahajjud, dan tidak tenggelam dalam syahwat. Demikian itulah hakikat mabrur sebenarnya.  

Wallahu a’lam..

Pin It on Pinterest