Ini Hoaks dalam Sejarah Perkembangan Islam

Indonesia merupakan negara yang menduduki peringkat ke-6 sebagai pengguna internet terbesar di dunia. Sayangnya, hal ini belum berbanding lurus dengan sifat kritis dan selektif masyarakat dalam menerima berbagai berita yang diperoleh dari internet. Akibatnya, banyak bertebaran berita bohong di berbagai laman media sosial.

Berita bohong atau yang lebih dikenal dengan istilah hoaks merupakan momok yang sangat berbahaya bagi kehidupan bermasyarakat. Ia dapat dengan mudah meracuni pikiran penerimannya serta dapat merusak tatanan sosial masyarakat. Terlebih, bilamana berita itu berbau isu-isu keagamaan khususnya agama Islam.

Dalam catatan Sirah Nabawiyah, hoaks telah sering terjadi bahkan sejak awal perkembangan agama Islam. Diantaranya pernah menimpa Sayyidah Aisyah R.A., Isteri Rasulullah SAW.

Persitiwa terjadi pada tahun ke-5 hijriyah, kala itu Rasulullah beserta para sahabatnya selesai berperang dengan Bani Musthaliq. Dalam setiap peperangan, Rasulullah selalu didampingi oleh salah satu istrinya, saat itu Aisyah RA-lah mendampingi beliau pada perang yang berakhir dengan kemenangan umat Islam tersebut.

Dalam perjalanan pulang, rombongan Rasulullah berhenti pada suatu tempat. Saat itu, Aisyah keluar dari sekedupnya karena suatu hajat. Setelah kembali, beliau mengetahui bahwasanya kalungnya telah terjatuh (hilang). Lantas beliau pergi lagi mencari kalungnya. Sementara itu, rombongan telah berangkat dengan persangkaan bahwa isteri Rasulullah Saw masih ada dalam sekedupnya.

Setelah berhasil menemukan kalung kesayangan, Aisyah R.A. pun kembali. Namun saying, didapati rombongan telah pergi meninggalkan Aisyah R.A. Beliaupun memutuskan untuk beristirahat di tempat dimana tendanya berdiri sebelumnya. Sampai akhirnya ia tertidur disana.

Sesaat setelahnya, lewatlah sahabat Rasulullah bernama Shafwan bin al-Mu’aththal al-Sulami yang mendapati Aisyah sedang  tertidur. Setelah Aisyah terbangun sahabat itupun lantas mengajaknya pulang ke Madinah.

Dalam perjalanan pulang Shafwan menuntun unta yang dikendarai Aisyah. Ketika memasuki Kota Madinah orang-orang munafik menyaksikan hal tersebut. Salah satunya Abdullah bin Ubay bin Salul.

Melihat momentum yang sangat bagus, para kaum munafik pun mulai menyebarkan berita hoaks mengenai perselingkuhan Aisyah dengan sahabat Shafwan. Berita ini, lantas mengemparkan penduduk madinah bahkan sangat meresahkan Rasulullah. Akhirnya Allah mengklarifikasi berita itu, dengan menurunkan firman-Nya surat An-Nur ayat 11-12 yang berisi pembelaan terhadap Aisyah serta menyanggah berita hoaks yang tersebar sebelumnya. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan istilah Khabar al-Ifk.

Kemudian, pada tahun ke-36 H muncul juga peristiwa yang dinamakan Fitnah al-Kubro. Saat itu, Khalifah Usman bin Affan terbunuh di kediamannya. Beberapa oknum mulai menyebarkan berita-berita palsu mengenai dalang dari pembunuhan Usman R.A. demi kepentingan mereka. Peristiwa ini merupakan embrio perpecahan umat muslim yang berdampak sangat besar dalam sejarah perkembangan agama Islam.

Pada periode selanjutnya, kasus hoaks berkembang kian pesat. tercatat mulai tahun 41 bakda hijrah Nabi Saw banyak sekali hadis palsu yang mulai bersebaran dengan mengatas namakan Nabi demi berbagai kepentingan tertentu.

Hadis-hadis palsu pada fase ini mulai bertebaran bagaikan kapas yang ditiup oleh angin. Sekedar gambaran: dari sekitar 600.000 hadis yang di Tarjih oleh Imam Bukhari, hanya 2.761 hadis yang diakui keabsahannya, dari 300.000 hadis yang diseleksi oleh Imam Muslim, hanya 4.000 yang diloloskannya, dari 500.000 ribu yang diterima Imam Abu Dawud hanya 4.800 yang dipilihnya, dan dari sekitar satu juta hadis yang ditampung Imam Ahmad bin Hanbal hanya 30 ribu hadis yang dipilihnya.

Tak heran, bahwa Nabi pernah bersabda:

“Barang siapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka tempat duduknya kelak ada dineraka”

Oleh karena itu, pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz dibentuklah divisi anti hoax yang bertugas mengklarifikasi segala berita yang dikatakan bersumber dari Rasulullah Saw.

Kemudian muncul juga ilmu musthalah hadits yang di dalamnya berisi petunjuk mengenai berbagai metode takhrij guna mengklarifikasi serta mengklasifikasi segala bentuk hadis yang bermunculan. Pada takhrij juga terdapat ilmu sanad (periwayatan) dan matan (konten), di mana setiap hadis harus berasal dari periwayat yang terjaga kepercayaannya (begitu bahkan melakukan sesuatu yang tidak etis dalam Islam) dan kontennya juga dicek secara ilmu kebahasaan dan kaidah-kaidahnya. Sehinga dapat diketahui apakah hadis ini memang berasal dari Nabi Saw atau tidak.

Sampai sini dapat kita pahami bahwasannya hoaks bukan suatu perkara yang baru, hoaks telah ada bahkan sejak zaman Rasulullah Saw dan terus berkembang hingga sekarang. Oleh karena itu, kita harus senantiasa bijak dalam bermedia sosial dengan selalu berfikir kritis serta tabbayun terhadap semua berita yang kita dapat agar tidak memberikan efek negatif bagi bagi diri kita maupun orang lain.

Kuy Bagikan!