Kitab Bahjat al-Wudluh: Hadis tentang Niat dan Anjuran untuk Memperbagusnya

Dalam kitab Bahjat al-Wudluh, hadis pertama yang dicantumkan adalah hadis tentang niat, yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Umar bin Khattab R.A.,

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّة، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيِهِ

“Sesungguhnya segala amalan itu tidak lain tergantung pada niat; dan sesungguhnya tiap-tiap orang tidak lain (akan memperoleh balasan dari) apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya menuju (keridhaan) Allah dan rasul-Nya (untuk imtitsal kepada perintah-Nya), maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah dan rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena (harta atau kemegahan) dunia yang dia harapkan, atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu ke arah yang ditujunya.”

Menurut K.H.R. Makmun Nawawi, penulis kitab Bahjat al-Wudluh, hadis ini awalnya khusus untuk seorang sahabat yang hijrah dari Mekah ke Madinah bukan karena Allah, melainkan dengan tujuan mengikuti seorang perempuan. Dan karena itu, ia mendapat kecaman. Maka seharusnya kita menghadirkan niat yang baik ketika hendak melakukan suatu pekerjaan wajib, sunnah, ataupun mubah –liwajhillah wa liridhahu.

Karena niatlah yang menjadi “kepala” segala amal dan menjadi fondasi bangunan amal. Barang siapa yang membuka pintu kebaikan pada dirinya, maka akan dibukakan untuknya tujuh puluh pintu taufik. Barang siapa yang membuka pintu kejelekan maka dibukakan untuknya tujuh puluh pintu, paling besar yaitu pintu menuju neraka. Ruang kebaikan lahir dari niat yang baik dan ruang keburukan lahir dari niat yang buruk.

Selanjutnya – menurut beliau – niat baik seorang hamba akan tetap diganjar pahala, meskipun tidak sampai dikerjakan. Sabda Rasulullah Saw bahwa pada hari kiamat Allah Swt. memerintahkan kepada malaikat hafazhah untuk menuliskan pahala amal yang beraneka ragam untuk seorang hamba. Malaikat menjawab, ”Ya Allah, kami tidak menemukan hamba ini mengerjakan amal tersebut dan juga tidak ada pada buku (catatan amal)nya”. Maka Allah berkata, ”Tidak apa-apa, karena hamba ini sudah berniat untuk mengerjakan amal tersebut”.

Contohnya seorang fakir miskin berniat dalam hatinya, ”jika Allah memberikan rezeki melimpah, maka aku akan menunaikan ibadah haji dan akan melaksanakan zakat serta sedekah”, sekiranya Allah mengetahui bahwa dia tidak akan ingkar. Adapun jika ingkar, maka tidak akan diberi ganjaran pahala, karena dia (sudah diketahui akan) berbohong.

Ada sebuah hikayat tentang dua orang bersaudara, seorang ahli ibadah (‘Abid) dan seorang ahli durhaka (fasiq). ‘Abid berharap ingin melihat rupa iblis. Pada suatu ketika, tiba-tiba iblis menampakan diri sambil berkata, “Sungguh (akan) menyesal kamu, wahai ahli ibadah, apa gunanya mempersulit diri sendiri? Sudah empat puluh tahun ibadah sambil menahan hawa nafsu, padahal umur kamu masih empat puluh tahun lagi. Kenapa tidak melakukan maksiat? Toh, hidup masih lama. Nanti, kira-kira dua puluh tahun lagi menuju kematian, tinggal taubat saja, kemudian ibadah sampai wafat”. Dari situ, ‘Abid bergumam dalam hati, “Ah benar juga, saya akan turun menemui Fasiq lalu ikut meminum arak dan melakukan maksiat. Setelah dua puluh tahun, baru ibadah dengan benar dan serius.”

Kemudian ‘Abid turun dengan niat akan melakukan maksiat. Dalam waktu yang sama, saudaranya, ahli durhaka (Fasiq), merasa dirinya amat hina. Mabuk-mabukan mengakibatkan rupanya tidak karuan. Tiba-tiba dia tersadar dan bergumam dalam hatinya, ”duh, betapa celakanya saya, umur sudah hampir habis hanya dipakai maksiat secara terus-menerus. Sementara saudara saya di kamar atas ibadah tiada hentinya. Besar kemungkinan dia akan masuk surga karena taat kepada Allah Swt. Sedangkan saya masuk neraka karena maksiat kepada Allah Swt.” Dari situ dia bertekad (‘azam) untuk taubat kemudian naik ingin menemui Abid dengan niat ingin menjadi hamba yang taat.

Pada waktu bersamaan, ‘Abid mulai menuruni tangga dengan niat ingin melakukan maksiat. Ditengah-tengah taraje (tangga kayu), ‘Abid terpeselet dan menimpa Fasiq yang sedang naik. Akhirnya mereka berdua terjatuh sampai keduanya menemui ajalnya masing-masing. Maka ‘Abid dikumpulkan dengan golongan ahli maksiat dan Fasiq dikumpulkan dengan golongan ahli ibadah. Semua itu disebabkan oleh niat.

Sahabat, alasan mengapa kita harus benar-benar memperhatikan niat adalah karena niat dapat melipatgandakan ganjaran pahala. Misalnya dalam perkara “shalat berjama’ah di masjid”. Maka kita bisa niatkan menjadi beberapa macam, pertama, niat imtistal (menjalankan) perintah Allah Swt. Kedua, ittiba’ (mengikuti) terhadap apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Ketiga, niat syiar (mendakwahkan) agama. Keempat, niat ziarah ke saudara-saudara muslim. Kelima, niat sambil thalabul ilmi (belajar)Keenam, niat i’tikaf (berdiam dengan zikir)Ketujuh, niat amar ma’ruf dan nahi mungkar. Kedelapan, niat mensyukuri nikmat kaki dan seluruh badan dengan cara menggunakannya untuk jalan kaki ke masjid. Kesembilan, niat membahagiakan teman muslim. Kesepuluh, niat memberi salam dan berjabat tangan dengan saudara-saudara. Dengan niat melakukan kebaikan yang beraneka ragam, pahala amal perbuatan menjadi berlipat ganda.

Dalam sebuah Hadis, Rasulullah Saw bersabda:

 كَمْ مِن عَمَلٍ يتَصَوَّرُ بِصُورَةِ عَمَلِ الدُنيَا ثُمَّ يَصِيرُ بِحُسنِ النِّيَّةِ مِن أَعْمَالِ الآخِرَةِ, وَكَم مِن عَمَلٍ يَتَصَوَّرُ بِصُورَةِ عَمَلِ الآخِرَةِ ثُمَّ يَصِيرُ مِن أَعْمَالِ الدُنيَا بِسُوءِ النِّـيَّةِ

“Betapa banyak amal yang berbentuk amal dunia tetapi menjadi amal akhirat karena baiknya niat dan betapa banyak amal yang berbentuk amal akhirat tetapi jadi amal dunia belaka karena jeleknya niat.” 

Hadis di atas tergambar dalam kehidupan kita sehari-hari, misalnya membaca Al-Qur’an dengan niat agar perempuan menyukainya atau agar mendapatkan berkat (upah dalam bentuk makanan) dan seperti makan-minum menjadi amal akhirat karena bagusnya niat.

Pada dasarnya, berniat melaksanakan seluruh perintah Allah Swt dan menjauhi segala larangannya. Berikut ini adalah contoh-contoh niat yang bagus untuk sesuatu yang secara zahir bukan ibadah, mudah-mudahan kalian mengetahuinya kemudian mengamalkannya,

Belajar, bisa diniatkan untuk

  • Niat belajar mencari ilmu karena mencari keridhaan Allah Swt dan surga-Nya
  • Niat menghilangkan kebodohan.
  • Niat menghidupkan agama Islam.
  • Niat mensyukuri nikmat akal.
  • Ketika sudah paham, berniat untuk mengamalkan dan menyebarkan kepada umat Nabi Muhmammad Saw.

Makan dan Minum, bisa diniatkan untuk

  • Niat agar memiliki tenaga untuk belajar dan ibadah.

Tidur

  • Niat menolak madharat dan nafsu serta supaya segar badan untuk beribadah.

Jima’/Berhubungan Suami Istri

  • Niat supaya diberi anak saleh dan berilmu serta rajin ibadah kepada Allah Swt.
  • Niat menundukkan gejolak syahwat dan memberikan hak perempuan supaya tidak mengerjakan perkara haram.

Berdagang, Bertani, dan Wirausaha

  • Niat mencari rezeki halal untuk melaksanakan perintah syariat.
  • Niat ingin menunaikan kewajiban menafkahi.
  • Jika sudah nishab, akan menunaikan zakat dan ibadah haji.

Bertamu/Berkunjung

  • Niat silaturahmi dan ziarah ke sanak saudara dan orang-orang saleh.
  • Niat melihat makhluk-makhluk Allah Swt agar tambah-tambah bersyukur dan sabar.

Maka hendaknya segala macam pekerjaan mubah diawali dengan niat seperti yang telah disebutkan di atas. Sehingga segala amal perbuatan akan bernilai ibadah. Adapun perkara haram dan makruh maka harus tetap ditinggalkan, tidak akan berubah menjadi ketaatan. Sekalipun diniatkan baik, tetap saja haram dan makruh.

Maka, hiasilah niat kalian! Jika kita bisa melakukan niat seperti yang disebutkan di atas, maka tidak diragukan lagi, semua pekerjaan kita akan menjadi ibadah. Bahkan dalam kitab Khazinat al-Asrar, as-Sayyid Muhammad Haqqi an Nazili mengutip pendapat Syaikh Junaid al-Baghdadi yang pernah berkata,

 وَيُمْكِنُ أَنْ تَصِيْرَ أَوْقَاتُ العَبْدِ جَمِيْعُهَا مَصْرُوْفَةً إِلَى الطَّاعَاتِ وَإِنْ كاَنَ وَقْتَ الأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالنَّوْمِ وَالمُصَاحَبَةِ مَعَ المَرْأَةِ وَالوِقَاعِ وَالكَلَامِ وَسَائِرِ الحَرَكَاتِ وَالسَّكَنَاتِ وَهِيَ بِنِيَّةٍ صَالِحَةٍ

Bisa jadi seluruh waktu seorang hamba termasuk dalam ketaatan, baik itu makan, minum, pergaulan dengan orang lain, percakapan, bergerak, maupun diam, asalkan dibarengi dengan niat yang baik.”

Sumber: bincangsyariah.com


Kuy Bagikan!