Foto diambil dari aceh.tribunnews.com

Kitab “Bahjat al Wudluh”: Semakin Dikejar, Semakin Jauh.

Hadis kedelapan dalam kitab Bahjat al Wudluh karya K.H.R. Ma’mun Nawawi berasal dari riwayat Abu Syaikh dari ‘Imran bin Hushain ra., Rasulullah saw bersabda:

مَـنْ انْقَطَعَ إِلَـى اللَّـهِ كَفَاهُ اللهُ كُلَّ مَؤُوْنَةٍ وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْـتَسِبُ وَمَنْ انْقَطَعَ إِلـَى الدُّنْيَا وَكَلَهُ اللهُ إِلَيْهَا

“Barangsiapa yang beribadah sepenuhnya kepada Allah, maka Allah Swt akan memberikan pertolongan (ma’unah) dan rejeki dari jalan yang tidak pernah disangka-sangka. Namun, siapa saja berusaha sepenuhnya untuk kehidupan dunia, maka Allah Swt akan menyerahkan urusannya kepada dunia.”

Sanad Hadis dan Kualitasnya

Selain riwayat Abu Syaikh, saya juga menemukan hadis ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam kitabnya Mu’jam al Ausath dan al-Baihaqi dalam kitabnya Syu’ab al Iman. Setelah melalui penelitian, semua riwayat melewati satu jalur perawi yang sama, yaitu Ibrahim bin al Asy’ats.

Ulama hadis berselisih pendapat tentang kredibiltas Ibrahim bin al-Asy’ats. Ibn Hibban menilai Ibrahim bin al-Asy’ats sebagai orang asing (dalam dunia periwayatan) dan melakukan kesalahan. Sebaliknya, al-Hakim berkata bahwa Ibrahim bin al-Asy’ats adalah perawi tsiqah (terpercaya). Al-Hakim mengaku pernah menulis Hadis darinya di Naisabur/Nisapur (bagian dari wilayah Iran sekarang). al-Hakim mengatakan, “kana tsiqatan wa katabna ‘anhu fi naisabur” (ia adalah seorang yang terpercaya dan kami sudah pernah menulis (hadis) darinya di Nisapur).

Untuk menarik kesimpulan terhadap dua pernyataan yang bertentangan (antara Ibn Hibban dan al-Hakim), saya mengedepankan pendapat Ibn Hibban dari pada Hakim dengan dua alasan; pertama, dalam kaidah jarh dan ta’dil (penilaian status periwayat hadis) terdapat kaidah

 “إذا تعارض الجرح والتعديل يقدم الجرح إذا فسر بجارح”

“Apabila terdapat selisih pendapat antara jarh (kritik negatif) dan ta’dil (komentar positif), maka dikedepankan kritik negatif jika disertai alasannya.” 

Kedua, terkait tentang profil dua ulama tersebut dalam dunia jarh dan ta’dil. Ibnu Hibban dikenal sebagai mutasahil (mudah mengatakan tsiqah) ketika menilai seorang perawi. Maka mafhum muwafaqah-nya kalau sudah menilai seorang perawi daif, tingkat kedaifannya sudah masyhur. Argumentasi ini diperkuat dengan tingkat subyektivitas al Hakim yang tinggi. Para ulama hadis cenderung tidak menerima pendapat al Hakim dalam jarh dan ta’dil kecuali ditemukan pendapat lain sebagai penguat. Oleh karena itu, hadis kedelapan ini berkualitas daif.

Pesan Hadis

Setelah mengartikan hadis ke dalam bahasa Sunda (seperti yang sudah saya terjemahkan di atas), K.H.R Ma’mun Nawawi berkata,

“Jadi tangtu pisan balangsak jaba doraka teh sumawonna menang saeutik dunyana.”

“Tentu akan sengsara sekali orang yang menyerahkan urusannya kepada dunia. Dosa sudah pasti, apalagi ditambah dengan hanya mendapatkan bagian sedikit saja dari dunia.”

Menurutnya, walaupun mendapatkan bagian dengan jumlah yang banyak, orang tersebut akan tetap merasa tidak berkecukupan; thama’ dan panjang cita-cita–diam dalam pengharapan dunia sampai-sampai melupakan amal untuk di akhirat. Mereka menyangka hidup di dunia tidak akan mati.

K.H.R. Ma’mun Nawawi kemudian mengibaratkan dunia seperti bayang-bayang dan air laut; semakin dikejar maka semakin menjauh dan air laut yang semakin banyak diminum maka semakin terhampar luas dan melimpah. “Mereka tidak ingat jika manusia di dunia diperintah harus bagaimana?,” tulis beliau di akhir paragraf.

Paragraf selanjutnya, K.H.R. Ma’mun Nawawi mengingatkan kepada kita semua bahwa segala perkara harus dilandasi dengan keikhlasan dalam mencari keridaan Allah Swt. Walaupun hidup bersama-sama (jumlah manusia yang banyak), dalam perkara dunia semuanya pasti mendapatkan bagian, tapi dengan dua cara, pertama, yang sesuai dengan hukum syara’. Nah, ini yang selamat serta bahagia di dunia dan akhirat. Kedua, yang tidak sesuai dengan syara’. Demikian ini yang merugi dan celaka.

K.H.R. Ma’mun Nawawi berkeyakinan bahwa orang mukmin pasti akan lebih memprioritaskan akhirat. Karena sekurang-kurangnya keimanan seseorang, pasti tahu bahwa akhirat lebih baik dari pada dunia. Tentu saja setiap perilaku mengunakan pertimbangan matang dan tidak menuruti hawa nafsu. Jika kamu melayani (beribadah) kepada Allah, tentu makhluk akan melayanimu.

Sebagai penutup K.H.R. Ma’mun Nawawi berkata, “jika kamu tunduk kepada Allah maka makhluk pun akan tunduk kepadamu dan jika kamu tunduk kepada makhluk, maka seluruh makhluk tidak akan tunduk kepadamu.”

Pin It on Pinterest