Legalitas Ayam Sebagai Kurban

Kurban, lebih sering dikenal oleh masyarakat sebagai sebuah ibadah dimana objek penyembelihannya unta, sapi, dan kambing dengan berbagai jenisnya. Orang Indonesia memperkenalkan seekor kerbau sebagai hewan sembelihan, karena memang adanya tuntutan daerah setempat yang membuat Sunan Kudus mengganti sapi menjadi kerbau.

Dalam berbagai literatur kitab fiqh madzhab al-Imam Muhammad bin Idris asy Syafi’i  (w. 204H), kurban yang disebut sebagai udhhiyah didefinisikan sebagai hewan yang disembelih, yaitu berupa onta, sapi dan kambing. Lebih jauh, Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad al Bajuri (w. 1276H), dalam bukunya Hasyihah al-Bajuri menyatakan bahwa keberadaan ketiga hewan tersebut adalah syarat diterimanya sebuah kurban, dalam artian kurban dikatakan sah jika berupa unta, sapi dan kambing.

Ibnu ‘Abbas melegalkan ayam, bagaimana statusnya?

Pada halaman yang sama, penulis al-Bajuri menyadur qaul ibn ‘Abbas yang menganggap penyembelihan ayam dan angsa sudah cukup untuk bisa dikatakan kurban, pernyataan Ibnu Abbas ini juga dikutip oleh Sulaiaman al Bujairomi dalam kitab Hasyiyah al Bujairomi ‘ala al Khotib pada halaman 340.

Tentu, pendapat Ibnu ‘Abbas ini tidak bisa ditelan mentah, pernyataan tersebut harus dipahami beserta dalih dan tujuan, mengingat sandaran ayat yang dipakai oleh para ulama memang secara spesifik memakai kata bahimat al an’am.  Bahkan, Ibn ‘Abbas sendiri, dalam tafsirnya Tanwir al Miqbas, menafsirkan kata tersebut dengan sesembelihan binatang ternak, yang dalam terminologi fiqh merujuk kepada unta, sapi dan kambing.

Usut punya usut, pernyataan beliau dipahami bahwa pernyataan itu ditujukan kepada masyarakat yang memiliki latar belakang ekonomi menengah kebawah. Tujuan Ibn ‘Abbas tidak lain agar mereka mempunyai niatan untuk berkurban dan kesampaian kurban ditahun depan. Berarti bukan untuk semua kalangan, karena sandaran ayat yang digunakan oleh para ulama’ mensyaratkan binatang ternak sebagai kurban.

Kuy Bagikan!