Foto diambil dari google

Menyebut Allah Ketika Bangun Tidur

Mungkin anda merasa hari-hari anda dipenuhi kemalasan atau mungkin anda bingung tidak tahu ingin melakukan apa pada hari ini atau anda merasa hari-hari anda menjadi tidak produktif; hanya diisi dengan hal-hal yang tidak menambah bekal dunia maupun akhirat anda, atau anda merasa berat untuk melangkahkan kaki ke masjid ketika mendengar adzan atau anda merasakan keresahan karena tidak ada aktivitas yang menyibukkan anda (nganggur). Jika jawaban Anda iya, maka anda perlu tahu apa penyebab semua itu dan cara mengobatinya.

Jauh sebelum anda merasakan hal-hal di atas, Rasulullah SAW telah memberi tahu penyebabnya dan memberikan pula obat untuk mencegahnya. Adapun penyebabnya adalah kerena tidak menyebut (dzikir) Allah ketika bangun tidur, sedangkan obatnya adalah menyebut Allah ketika bangun tidur. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (w. 256 H) dalam shahihnya dari Abu Hurairah R.A. (w. 57 H), Rasulullah SAW bersabda:

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ –إِذَا هُوَ نَامَ- ثَلَاثَ عُقَدٍ، يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيْلٌ فَارْقُدْ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَأَصْبَحَ نَشِيْطًا طَيِّبَ النَّفْسِ، وَإِلَّا أَصْبِحَ خَبِيْثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ

Setan mengikat di atas tengkuk kepala seorang dari kalain –saat tidur- tiga ikatan yang mana setan mengencangkan setiap ikatannya (dengan berkata) malam masih panjang, tidurlah. Maka, apabila seorang itu bangun kemudian menyebut Allah, terlepaslah satu ikatan. Kemudian apabila ia berwudhu, terlepaslah satu ikatan. Kemudian apabila ia melaksanakan  shalat, terlepaslah satu ikatan. Maka, jadilah ia di pagi harinya orang yang giat dan baik jiwaya. Namun bila ikatannya tidak lepas, maka pada pagi harinya jadilah ia buruk jiwa dan pemalas.

Riwayat di atas sangat jelas menerangkan bahwa setan mengikatkan tiga ikatan pada tengkuk kepala orang yang tidur dan ikatan tersebut akan lepas dengan berdzikir kepada Allah ketika bangun tidur, kemudian wudhu lantas melaksanakan shalat dan jadialah baik jiwanya serta giat pada harinya karena terlepas ikatan setan darinya. Sebaliknya, jika ikatan setan masih mengekangnya, maka kemalasan akan menyertainya dan jiwanya menjadi buruk.

Namun jika dzikir kepada Allah ketika bangun tidur kemudian wudhu lantas melaksanakan shalat sudah dilakukan semua tetapi masih merasakan kemalasan, kemudian meninggalkan hal itu semua karena tidak kunjung sembuh dari penyakit malas, lantas apakah Rasulullah SAW berbohong akan sabdanya?

Dalam hal ini Imam al-Ghazali (w. 505 H) telah menjawab dalam kitabnya Bidayatul Hidayah bahwa mengobati penyakit membutuhkan kesabaran dan waktu, maka bersabarlah dengan selalu melaksanakan apa yang disabdakan Rasulullah SAW demi menghilangkan kemalasan, sebagaimana sabarnya orang sakit yang meminum pahitnya obat sembari mengharap dan menunggu datangnya kesembuhan.

Mengenai dzikir ketika bangun tidur, Rasulullah SAW telah megajarkan doa sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi (w. 279 H) dari Abu Hurairah R.A. (w. 57 H) Nabi Muhammad SAW bersabda:

إِذَا اِسْتَيْقَظَ فَلِيَقُلْ: الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ رَدَّ عَلَيَّ رُوْحِيْ، وَعَافَانِيْ فِيْ جَسَدِيْ، وَأذِنَ لِيْ بِذِكْرِهِ

Segala puju bagi Allah yang telah mengembalikan ruhku dan menyehatkan tubuhku serta mengizinkanku berdzikir kepada-Nya.

Kemudian pada riwayat lain dari Hudzaifah bin Al-Yaman (w. 36 H) sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (w. 256 H) di Sahihnya:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ قَالَ: “اللّهُمَّ بِاسْمِكَ أَمُوْتُ وَأَحْيَا” وَإِذَا قَامَ قَالَ: “الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ أحْيَانَا بَعْدَمَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ”

Nabi SAW ketika hendak menempati tikarnya berdoa: “ ya Allah dengan nama-Mu aku mati dan hidup” dan ketika bengun beliau berdoa: “segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah (kami) dibangkitkan”

Masih banyak riwatayat lain yang menyebutkan tentang bagaimana Rasulullah SAW mengajarkan dzikir maupun doa ketika bangun tidur, namun cukuplah dua riwayat di atas sebagai penunjuk bahwa hal pertama yang dilakukan Rasulullah SAW ketika bangun tidur adalah berdzikir kepada Allah SWT dan cukuplah dua riwayat itu sebagai penggerak untuk berdzikir kepada Allah SWT ketika bangun tidur dengan mengamalkan apa yang telah Rasulullah SAW ajarkan dari dzikir maupun doa maupun amalan dengan niat meneladani (iqtida’-ittiba’) Rasulullah SAW, karena dengan itu akan mendapat dua pahala; pahala berdzikir kepada Allah dan pahala meneladani Rasulullah SAW. Wallahu a’lam.

Semoga Allah senantiasa memberikan taufiq-Nya untuk melakukan hal yang dicintai dan dirhidai-Nya. Amin.

Kuy Bagikan!