Tidak Pernah Berhenti Menjadi Santri

Santri lazim dikenal sebagai sosok yang baik akhlaknya dan memiliki keunggulan dalam bidang pengetahuan agama. Hal ini tercermin dari sudut pandang masyarakat luas, jika disebut nama “santri” maka yang terlintas dalam benak pikiran masyrakat adalah sosok yang unggul dalam pengetahuan agama. Namun, sudut pandang masyarakat luas ini perlu ditinjau dan diakrabkan kembali dengan kondisi individual dari seorang santri itu sendiri. Sebab, tidak semua santri memiki selera dan bakat yang sama kendati mereka hidup dan belajar di lingkungan yang pesantren yang sama.

Terlepas dari paradigma masyarakat umum terhadap santri, apapun bakat dan seleranya, ia harus mampu mencerminkan dirinya sebagai buah tangan kiai beserta guru-guru yang telah mendidiknya, menjaga nama baik pesantren dan menebar luas nilai-nilai kepesantrenan. Jadi, profesi apapun yang digeluti oleh seorang santri, harus bermuara kepada nilai-nilai kepesantrenan, kalau di Pondok Modern disebut dengan panca jiwa.

Secara garis besar pesantren itu memliki nilai keikhlasan, nilai kebersamaan, dan nilai persaudaraan di atas keberagaman. Kiai dan guru-gurunya ikhlas mendidik, santri-santrinya ikhlas dididik. Di pesantren tidak dikenal yang namanya diskriminasi individual, Antara anak pejabat dan anak petani, semuanya sama. Dengan kebersamaan inilah melahirkan ikatan persaudaraan yang kuat.

Ada sebuah jargon yang membentang indah di atas panggung wisuda di salah satu pesantren. Jargon tersebut bertuliskan “Tidak Pernah Berhenti Menjadi Santri” jargon ini terlihat indah dengan tata rias yang didesain oleh rangkaian kain dan lukisan hasil jerih payah dari santri itu sendiri. sepatutnya, jargon tersebut tidak hanya menjadi hiasan semata, tapi harus mampu dimanifestasikan oleh para alumninya. Sehingga terwujud kehidupan yang indah, kehidupan yang dibingkai oleh nilai-nilai kepesantrenan, dihiasi oleh petuah kiai beserta guru-guru.

Jika ada alumni pesantren yang menjadi pejabat, ia akan menjadi pejabat yang santri, tidak akan berani korupsi, karena di pesantren dididik untuk jujur dan amanah. Jika ada alumni pesantren yang menjadi pengusaha, maka ia akan menjadi pengusaha yang santri, tidak akan  curang, selalu berbagi dengan kekayaan yang dimilikinya, karena di pesantren ia dididik untuk berbagi. setiap sudut kehidupannya akan menjadi indah layaknya jargon yang didesain dengan tata rias yang indah itu. Dalam profesi apapun alumni pesantren setidaknya akan berusaha untuk tidak melupakan jati dirinya sebagai santri. Tidak pernah berhenti menjadi santri, berarti tidak pernah berhenti belajar dan mengajarkan ilmunya, yang lebih penting lagi dari jargon ini, seorang santri tidak akan melupakan almamater, kiai dan guru-guru yang telah mendidiknya selama di pesantren, menjaga hubungan baik dan menjaga citra pesantren.

Dengan demikian, pesantren tidak hanya sebatas tempat transformasi ilmu, lebih dari itu, pesantren juga adalah orangtua untuk santri-santrinya. Kiai penulis selalu menasehati seperti ini; “Ikatan alumni dengan pondok layaknya ikatan seorang anak dengan ibunya, dimana keduanya tidak bisa dipisahkan” tampaknya, dauh pak kiai ini tidak hanya berlabuh di tepi lisan saja, lebih dari itu dauh ini telah mendarah daging dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari denyut nadi kehidupan para alumninya.

Sebagai seorang alumni tentu akan rindu dengan pesantren yang telah membesarkan dan mendidiknya selama bertahun-tahun itu. Sehingga, apapun ceritanya alumni yang statusnya sebagai anak, akan mengungkapkan kerinduannya, minimal menengok keadaan pesantren meski hanya sekedar mampir bersilaturrahmni. Hal demikian, sebagai bukti bahwa ikatan alumni dengan pondok layaknya ikatan seorang anak dengan ibunya.


Sebelumnya tulisan ini dimuat di http://santrimengglobal.com

Kuy Bagikan!